fc

fc
fc

Selasa, 14 Juni 2016

10 Kesalahan Fatal Guru di Kelas yang Dibenci Muridnya dan Cara AMPUH Mengatasinya

Kata “Guru” berasal dari bahasa sanksekerta yang merupakan gabungan dari dua suku kata, yakni “gu” yang berarti kegelapan (darkness) dan “ru” yang berarti terang (light) atau cerah. Seorang guru membawa murid-muridnya dari ketidak tahuan menjadi tahu, paham dan mengerti. Guru adalah sosok digugu dan ditiru, artinya perilaku guru menjadi teladan bagi murid dan lingkungannya.
Tugas guru adalah memberi pencerahan. Untuk memberi pencerahan guru harus menguasai ilmu dan kompetensinya. Dan untuk menjadi guru professional guru harus memiliki 4 kompetensi seperti kompetensi akademis, pedagogis, kepribadian dan kompetensi sosial.
Dari pandangan murid, guru yang berhasil dan disenangi muridnya adalah sosok guru yang penuh perhatian, sabar, memotivasi dan bisa menjadi tempat “curhat”. Namun, tidak semua guru memiliki cara, metode dan pendekatan yang baik dalam mengelola kelasnya.

Dari kumpulan hasil survey, saya menginventasir perilaku guru yang dibenci muridnya, dan menjadi kesalahan fatal bila tidak segera diatasi.
10 Kesalahan Fatal Guru :
1. Tidak punya perhatian,
2. Pilih kasih,
3. Tidak kompeten mengajar,
4. Terlalu menuntut,
5. Terlalu kaku,
6. Keras,
7. Disiplin berlebihan,
8. Sinis,
9. Suka marah- marah,
10.Membawa masalah pribadi ke sekolah
Cara-Ampuh-Merebut-Hati-MuridCara-Ampuh-Merebut-Hati-Murid
Cara-Ampuh-Merebut-Hati-MuridCara AMPUH Merebut Hati Murid
Mengajar dengan baik bukanlah soal teknik dan cara yang dipakai, tetapi kepada integritas pelakunya, yakni guru itu sendiri . Seorang guru AMPUH mampu menciptakan hubungan antara dirinya, mata pelajaran yang diajarkan, dan murid murid sehingga mereka bisa menciptakan dunia mereka sendiri.
Untuk mengatasi masalah di atas, menurut pengalaman, cara AMPUH ini betul betul Ampuh , berikut uraiannya:
#Cara “A”: Asertif dalam Bertindak
Guru Asertif adalah guru yang tegas tetapi tidak kasar. Asertif adalah sikap yang tegas dan memiliki keberanian menyatakan pendapat. Ada 3 komponen dasar dari sikap asertif yaitu : (1) Kemampuan mengungkapkan perasaan, (2) Kemampuan mengungkapkan keyajinan secara terbuka, dan (3) Kemampuan untuk mempertahankan hak hak pribadi ( tidak membiarkan orang lain mengganggu dan memanfaatkan dirinya).
Tujuan perilaku asertif adalah mengkomunikasikan sesuatu dalam suasana saling percaya. Konflik yang muncul dihadapi dan solusi dicari untuk menguntungkan semua pihak.
#Cara “M”: Menghargai Murid
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah guru Anda, atau sebagai guru, mana yang sering dilakukan: memberi pujian atas perilaku baik murid atau mengkritik, menyalahkan, menasehati, memerintah, dan memberi label? Tanpa disadari, murid murid ternyata haus akan pujian guru. Setiap manusia, apapun latar belakangnya memiliki kesamaan yang mendasar yaitu ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
#Cara “P”: Pandai Membina Hubungan Baik
Dalam pembelajaran, pengetahuan yang diajarkan sama pentingnya dengan cara memberikan pelajaran itu sendiri. Sebaik apapun ilmu pengetahuan yang diajarkan, jika cara memberikan pelajaran tidak menarik, semua akan sia-sia. Cara menyampaikan pelajaran adalah cara guru berkomunikasi terhadap muridnya. Dalam membina hubungan baik, tentu saja guru harus menguasai cara dan teknik berkomunikasi. Keterampilan interpersonal dan komunikasi dalam mempresentasikan materi pelajaran di kelas sangat menentukan suksesnya proses belajar mengajar.
#Cara “U”: Usaha Optimal
Anak “bodoh” adalah label buruk yang seharusnya tidak diungkapkan, apalagi kepada murid yang masih mengalami perkembangan kecerdasan dan kejiwaan. Orangtua dan guru seharusnya tidak meremehkan kemampuan anak atau murid.
Untuk melakukan usaha optimal, seorang guru harus memiliki niat dan keyakinan. Niat keyakinan yang kuat untuk mengubah anak yang biasa biasa saja menjadi anak yang luar biasa, anak yang memiliki kebiasaan buruk menjadi kebiasaan efektif. Selain itu guru juga harus memiliki kebiasaan efektif. Dalam buku Cara AMPUH saya mengulas bagaimana pandangan Stephen R. Covey dengan buku 7 Habits of Highly People yang diimplementasikan dalam kebiasaan di sekolah.
#Cara “H”: Hindari Kekerasan dan Rasa Takut
Perlakuan yang menimbulkan rasa takut yang dialami anak dapat memberikan dampak negatif bagi tumbuh kembangnya. Anak yang mengalami rasa cemas akan mengalami ganguan psikologis seperti kurang percaya diri, rendah diri, dan merasa tidak berarti dalam lingkungannya sehingga tidak termotivasi untuk mewujudkan potensi potensi yang dimilikinya.
Untuk itu guru di kelas harus mengubah kata kata ancaman menjadi kata ajakan yang memotivasi. Bagaimana mengetahui penyebab kekerasan, cara mengatasi konflik kekerasan? Karena keterbatasan ruang, akan di bahas pada edisi selanjutnya.
Demikian kesalahan fatal guru di kelas dan cara mengatasinya, ikuti ulasan berikutnya hanya di blog artikel pendidikan Indonesia, blog yang menyajikan sajian ringan, bergizi dan menyehatkan. Namun, bila Anda ingin mendapatkan ulasannya segera dapat memiliki buku Cara AMPUH yang dapat dibeli di toko buku Gramedia dan toko buku di kota Anda.
Foto  atas: Suyono SE dan murid murid SD Fastabiqul Khairat Samarinda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar